BIAR IBU GANTIKAN AYAH
Inilah potret takdir perempuan, takdir laki-laki, serta takdir anak yang terpicut di antaranya. Saya pernah mencoba membacakan ini di depan sang ibu, tapi beliau menolaknya karena tak akan mengubah apa-apa. Laki-laki kiriman tuhan pada saya ini, sudah mati gaya dan mati rasa, keluhnya. Pintarnya Cuma kawin.
Seorang ibu dari negara dunia ketiga yang dasar negaranya adalah “Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Mati Aja” telah menulis pesan singkat di balik bungkus buku anaknya, “Biar Ibu gantikan ayah.” Tadi pagi, sebelum anak laki-lakinya bangun.
Barangkali memang itulah yang dibutuhkan anaknya agar anaknya tidak bertanya-tanya, mengapa dia tidak pernah melihat ibu pada pagi hari. Mengapa dia harus mengurus dirinya sendiri, sementara ayah tidur mendengkur.
Setiap pafi sampai menjelang malam, sang ibu pergi bekerja. Apapun yang bisa dikerjakannya. Nguli di pasar, nyuci dirumah orang kaya atau apa saja yang penting bisa “Menuhin mulut” anak-anak di rumah. Sejatinya, sang ibu tidak pernah mengeluh. Suatu pagi, saya melihat sang ibu memanggul satu karung beras dan memindahkannya dari sebuah truk ke dalam toko. Sigap, tanpa raut mengeluh.
Pada zaman yang semakin modern ini, fungsi dan peran hidup justru semakin banyak bergeser. Termasuk diantaranya adalah peran dan kedudukan dalam rumah tangga. Seharusnya, kaum bapaklah yang keluar rumah mencari nafkah. Menjalankan peran dan tanggung jawab “keayahannya”. Namun kenapa ibu yang berangkat?
Seorang anak bangun setiap pagi. Membalikkan bungkus bukunya lalu mendapati dan membaca pesan singkat ibunya. Tetap sama dan kokoh disitu. Entah sampai kapan.
Dia berusaha memahami hidup sebisanya. Dia menyambung pesan ibunya dengan tulisan, “Bu, lelaki memang sulit diduga. Aku takut jadi lelaki. Aku ingin seperti ibu saja.”
Sepuluh menit berjalan kaki dari bulungan. Selepas mayestik berbelok ke kiri lalu belok lagi ke kiri terdapat sebuah gang suram bernama gang jera yang hiruk-pikuk oleh keberadaan anak-anak. Adapula sesekali suara sahut-sahutan ibu-ibu berantem ditingkahi lagu mix dangdut yang jelas diputar melalui tape “kelas coco”. Khas orchestra gang-gang Jakarta yang ortodoks.
Ditempat itulah, terakhir saya bertemu ibu. Saya mengusulkan agar anak-anak bisa pindah belajar ke sebuah sekolah gratis yang tak jauh dari rumah kontrakannya. Sang ibu menolak dengan alasan dulu juga pernah ditawari sekolah gratis, tapi gratis masukknya doang. “nyang perlu sekolah thu bukan anak, tapi babanye!” ucapannya terakhir sambal tertawa memamerkan deretan giginya yang mukin sudah beberapa bulan tidak disikat.
Sumber : Buku Aku Mau Ayah, Kisah-kisah anak yang terabaikan.

Facebook Comments