Kisah Tiga Sahabat yang Dermawan

Kisah Tiga Sahabat yang Dermawan

Kisah Tiga Sahabat yang Dermawan

Suatu saat, Nawawi terhempit ekonomi yang sangat memprihatinkan. Dia mengalami kebangkrutan dan kini tidak memiliki pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Anak-anak Nawawi menangis karena lapar. Nawawi sangat bingung. Dia ingin membuka usaha baru, namun tidak memiliki modal sedikitpun. Dia memberanikan diri menyurati sahabatnya, khairi agar dapat meminjamkannya uang.

“wahai sahabatku, Khairi.
Bisakah engkau meminjami aku uang sebesar 500 dirham. Pada saat ini aku jatuh miskin karena usaha yang kukelola mengalami kebangkrutan. Dengan uang pinjaman yang engkau berikan, aku berharap dapat memulai usahaku kembali dan akan segera mengembalikan utangku padamu menjelang Ramahdan.
Sahabatmu, Nawawi.”

Tentu saja sebagai sahabat yang peduli, Khairi segera mengirimkan uang sebesar 500 dirham dan berharap usaha sahabatnya kembali membaik walaupun sebetulnya usaha dia pun sedang tidak berjalan baik. Ketika uang diterima, Nawawi segera menyimpannya dan berencana akan membelanjakannya untuk kebutuhan dagang keesokkan harinya. Malam harinya, Nawawi menerima surat dari sahabatnya, Amir.

“Wahai sahabatku, Nawawi.
Apa kabarmu? Dan bagaimana juga kabar keluargamu? Kabarku tidak begitu baik, aku telah ditipu orang sehingga kini usahaku hancur berantakan. Aku berencana ingin meminjam uang padamu sebesar 500 dirham agar aku bisa memulai usahaku kembali. Insya Allah aku akan segera mengembalikannya menjelang Ramadhan.
Sahabatmu, amir.”

Tanpa pikir panjang, Nawawi mengirimkan uang yang baru didapatkannya dari khairi kepada Amir.

Menjelang Ramadhan, Nawawi mendapat kunjungan dari khairi, juga kunjungan Amir di rumahnya. Khairi hendak menanyakan prihal utang Nawawi sebab menjelang Ramadhan kebutuhannya meningkat sehingga ia membutuhkan uang itu.

“oh maaf, aku telah menggunakan uangmu untuk modal usahaku, apakah hari ini engkau akan memintanya kembali?” Nawawi memastikan, ini harinya dia berjanji untuk membayar utang.

Tiba-tiba khairi mengeluarkan 500 dirham dari sakunya.

“demi Allah, aku tidak memiliki uang lain selain uang 500 dirham ini, sementara bulan Ramadhan sebentar lagi datang dan kebutuhan keluargaku bertambah. Ketika engkau mengirimkan surat padaku, aku segera mengirimkan uang ini padamu. Sementara aku juga menulis surat kepada amir untuk meminjamiku uang. Lalu amir mengirimkanku uang sebesar 500 dirham ini.

Makanya aku justru ingin bertanya bagaimana uang ini bisa berputar-putar antara kita? Kau mengenali kantung uang ini sebagai kantung yang kugunakan untuk mengirimkan uang padamu wahai sahabatku, Nawawi. Dan ketika aku bertanya pada Amir, dia mengatakan bahwa memang dia baru meminjam uang padamu. Dan sekarang aku tidak akan menagih uang padamu melainkan aku akan membagi 500 dirham ini menjadi empat bagian, masing-masing mendapatkan 150 dirham untuk modal usaha, sisanya 50 dirham akan kita belanjakan kebutuhan untuk Ramadhan kita semua. Semoga Allah kembali melancarkan usaha kita,“ kata Khairi.

Kemudian Khairi membagi uangnya. Atas izin Allah, usaha mereka kembali mengalami kesuksesan dan persahabatan mereka semakin terjalin baik.

 

“Maafkanlah kesalahan orang yang murah hatinya (darmawan). Sesungguhnya Allah swt. Menuntun tangannya jika dia terpeleset (jatuh). Seseorang pemurah hati dekat kepada Allah swt., dekat kepada manusia, dan dekat kepada surga. Seorang yang bodoh tapi murah hati (darmawan) lebih disukai Allah swt. Dari pada seorang alim (tekun beribadah), tapi kikir.” (HR ath-Thabrani)

 

Sumber : 44 Kisah Inspiratif, Islamic Windoms : Temui Ibu, Nak. Sekali Ini Saja.